Jumat, Juli 04, 2008

Future of Islamic Technology

Masa Depan Teknologi Islam
Oleh: A Khudori Soleh
EVOLUSI sains dan teknologi Islam sampai bangkitnya revolusi saintifig di Barat, secara garis besar, bisa dibagi menjadi tiga tahapan. Pertama, periode transisi dan asimilasi yang membawa pada kelahiran sains Islam. Kedua, periode yang ditandai dengan banyaknya inovasi dibidang sains Islam. Ketiga, periode yang ditandai dengan inovasi dibidang teknologi dan sains sekaligus. Tahap terakhir ini dimulai sekitar abad ke-12 sampai abad 16 atau 17 M. Dalam hal pencapaian, yang disebut terakhir ini boleh dikata merupakan tahapan puncak dalam sejarah teknologi Islam. Tahap kejayaan. Dalam tahap ini banyak lahir leteratur (manuskrip) tentang teknologi tinggi, baik yang berbahasa Turki, Persia, Arab atau yang lain yang kini tersimpan diberbagai perpustakaan di seluruh dunia.
Akan tetapi, dalam riset-riset ilmiah tentang teknologi Islam, kecemerlangan tersebut rupanya banyak dilupakan atau bahkan sengaja diabaikan oleh para sejarawan sains dan teknologi. Mereka sebenarnya tahu dan sadar akan kemajuan-kemajuan yang telah dicapai oleh para ilmuwan muslim dalam bidang matematika, astronomi, ilmu-ilmu eksakta atau yang lain. Akan tetapi, kebanyakan dari mereka tidak simpatik dalam memberikan penilaian dalam evolusi teknologi Islam. Padahal, kalau dicermati, teknologi ikut terlibat langsung dalam aspek material dari peradaban Islam; standar kehidupan, jenis-jenis produk yang digunakan, kemajuan dalam pertanian, komunikasi dan semua senjata yang digunakan dalam peperangan, semua tergantung kepada teknologi. Ketika seseorang berbicara mengenai kemegahan Taj Mahal, Baghdad, Kairo atau al-Hambra di Spanyol, mereka tidak hanya merujuk pada kehebatan artistik bangunan dan tata kota-kota tersebut tetapi juga tingkat pencapaian teknologi yang tinggi.
Adanya pelecehan atau bahkan penyangkalan terhadap aspek budaya dan teknologi Islam iniberakar dari berbagai sebab. Antara lain, yang terpenting, menurut Ahmad Y. Al-Hasan, teknologi Islam belum dikaji secara mendalam dan memadai. Kita masih belum tahu banyak tentang apa sebenarnya yang telah dicapai di masa itu. Masih banyak leteratur teknologi Islam yang berbahasa Arab atau bahasa lain yang belum diterjemahkan dalam bahasa-bahasa Eropa atau bahasa lain. Atau sudah diterjemahkan tetapi belum dipublikasikan disamping berlimpahnya informasi yang tersebar dalam karya-karya ensiklopedik dan buku-buku sejarah, geografi, kesusastraan dan bidang-bidang lain.
Meluruskan adanya “penyelewengan” tersebut jelas merupakan usaha yang sangat bermanfaat, dan untuk keberhasilan tersebut dibutuhkan tidak hanya sejarawan-sejarawan yang mampu menguasai bahasa arab tetapi juga “familiar” terhadap kebudayan Islam secara umum. Maksudnya, mesti ada kejujuran dan “profesionalitas” dalam melakukan risetnya. Ini penting karena prasangka-prasangka pribadi bisa mempengaruhi penilaian seseorang terhadap suatu masalah yang dihadapi dan itu selalu muncul dalam setiap kajian terhadap perkembangan budaya lain. Pendukung suatu rumpun budaya akan selalu berkeras untuk mengklaim dirinya sebagai penemu yang paling penting. Jika tidak, minimal akan melemparkan keraguan terhadap kemajuan rumpun budaya lain.
Kondisi yang tidak “familiar” dan “professional” seperti itu akan semakin menjadi runyam manakala bukti-bukti tertulis suatu kebudayaan tidak --bisa-- ditemukan. Padahal, sebagaimana bisa dimaklumi, sebagian besar penemuan --ilmuwan dahulu-- tidak pernah atau jarang terkait dengan kegiatan penulisan secara langsung. Sebaliknya, penemuan-penemuan tersebut lebih sering dan banyak disebarkan melalui para pengembara, peperangan atau perdagangan. Karena itu, penemuan dari sebuah negara bisa jadi malah berkembang atau dikembangkan oleh negara lain. Apa yang ditemukan ilmuwan Indonesia misalnya, bisa jadi justru malah bisa berkembang dan mencapai kemajuan pesat di Malaysia atau ditempat lain, sehingga hal ini bisa menimbulkan kebingungan dan dapat menumbuhkan berbagai prasangka.

Faktor Penghambat Kemajuan.
Sebagaimana stabilitas politik dan kemakmuran ekonomi telah mendorong lahirnya sains dan teknologi tinggi dalam Islam, maka kemandegan ekonomi dan instabilitas politik, ternyata juga menyebabkan lambatnya perkembangan sains dan teknologi Islam, ditambah dengan fanatisme agama yang berlebihan yang menyebabkan masyarakat menjadi terkotak-kotak dalam kelompok-kelompok yang tidak akur, walau fanatisme agama ini --menurut Donald R. Hill-- lebih merupakan gejala yang mencuat akibat kehancuran ekonomi dan politik.
Selama ini, kita selalu didoktrik bahwa sains dan teknologi Islam telah terhenti pada abad ke-11, dengan adanya serangan Mongol yang membumi-hanguskan Baghdad. Kebanyakan kita menerima pernyataan tersebut dengan tanpa syarat. Pernyataan tersebut, seperti pernah juga disampaikan Hill, sebetulnya tidak bisa diterima. Benar bahwa setelah serangan Mongol atas Baghdad, perkembangan sains dan teknologi Islam ada hambatan, tetapi tidak sampai terhenti. Sains dan teknologi Islam tetap mengalami kemajuan selama beberapa abad ke depan. Kita masih melihat besarnya teknologi dan peradaban Fathimiyah, Buyit, Savawiyah dan yang lain. Perkembangan sains dan teknologi Islam baru mengalami hambatan --serius-- yang kemudian menyebabkan terhenti setelah adanya ketergantungan ekonomi yang besar pada negara-negara Barat dan tidak adanya stabilitas politik pada masa khilafah Utsmaniyah Turki.
Seperti diketahui, pada awal kekuasaan Turki Utsmani, dengan ditemukannya rute ke Timur lewat Tanjung Harapan, para pedagang Eropa mulai membentuk hubungan dagang dengan Turki. Pada tahun 1553, Sultan Sulaiman I menyetujui perjanjian perdagangan bebas antara Inggris dengan Turki yang Inggris kemudian mendirikan Levian Company di Turki (mirip VOC pada masa awal penjajah Belanda di Indonesia). Dari fihak Turki sendiri, demi mengurangi kerepotan industri, mulai mengimport barang-barang dari Inggris maupun negara-negara Eropa lainnya, sehingga lambat laun perekonomian Turki menjadi tergantung kepada perekonomian Eropa. Pada awalnya tidak terasa adanya bahaya kejadian tersebut karena komoditas import hanya berkisar pada tekstil wol, logam dan kertas. Akan tetapi, masuk abad ke-19, dampak pengimporan barang-barang dari Eropa menjadi terasa. Apalagi ditambah keadaan yang semakin memburuk, yaitu adanya perpecahan dan upaya pemisahan diri dari negara-negara bagian. Karena itu, ketika terjadi revolusi industri di Eropa, perekonomian dan industri di negara-negara Islam menjadi tidak berdaya dan terugikan. Sampai sekarang.

Tergantung Kerja Sama Negara-Negara Islam.
Untuk melihat masa depan sains dan teknologi Islam, kita mesti mengingat dan belajar dari sejarah. Sejarah peradaban manusia mengajarkan bahwa tidak ada kandungan teknis maupun dasar dari jenis sains apapun, bahkan teknologi manapun yang tidak dapat ditumbuh-kembangkan oleh sembarang masyarakat dari sembarang ragam budaya. Dengan kata lain, tidak ada jenis kelompok manusiapun di dunia ini yang memusuhi sains. Sebaliknya, hampir semua kelompok umat manusia sepanjang sejarah senantiasa ikut memberi kontribusi yang berarti bagi teknik-teknik dan ilmu pengetahuan yang mereka warisi, terutama umat Islam.
Selain itu, sejarah juga memberi pelajaran bahwa ilmu dan ilmuwan senantiasa tumbuh subur pada kelompok komunitas dan linguistik yang besar, bukan yang kecil. Juga tumbuh pada daerah yang makmur, bukan daerah yang tandus dan miskin. Sebab, perkembangan dan kejayaan ilmu pengetahuan dan teknologi pada hakekatnya tergantung pada infrastuktur yang disediakan dari kemakmuran tersebut.
Masyarakat Islam, secara keseluruhan, kaya akan sumber daya alam dan manusia. Ini adalah hal yang sangat mendukung dan menguntungkan karena masa depan sains dan teknologi tergantung dari keberhasilan dalam memanfaatkan kombinasi kedua modal dasar ini. Akan tetapi, secara sendiri-sendiri, negara-negara Islam yang kaya minyak adalah negara kecil. Masing-masing tidak mampu menciptakan sains dan teknologi yang efektif secara mandiri atau sebuah ekonomi industri yang independen. Disisi lain, negara-negara Islam yang dikaruniai sumber daya manusia yang unggul rata-rata adalah negara yang kekurangan sumber daya alam yang mampu menjadi pendukung pengembangan sains dan teknologi.
Karena itu, tanpa menafikan keberhasilan beberapa negara Islam dalam pengembangan sains dan teknologi mutakhir, masa depan sains dan teknologi Islam sangat tergantung pada perluasaan kerjasama ekonomi dan keterikatan serta kerukunan diantara negara-negara Islam dalam menjalin hubungan timbal baik yang menguntungkan dan saling mengisi kekurangan. Tanpa adanya kebulatan tekad dan kepemimpinan kooperatif yang baik diantara negara-negara Islam, yang kaya dengan yang miskin, sains dan teknologi Islam akan tetap dibawah bayang-bayang kekuasaan dan kekuatan Barat. Wallahu a'lam.

Pernah dimuat di Harian PELITA, Jakarta, edisi Senin, 10 Juni 1996

1 komentar:

slamet bagio,  Rabu, Februari 04, 2009  

assalamualaikum.wr. wb.
saya seneng membaca tulisan2 bung khudori, ada banyak pengetahuaan dan ketidaktahuan yang tercerap..tapi suatu keniscayaan untuk nambah pengetahuan..

namun dalam epistimologi bung khudori bila dikaitkan dengan IT, sungguh memang bentuk non-fisik dari internet ini juga dimodelkan dengan logika2 tersebut dengan bahasa program dan logika.bahkan tanpa kita sadari dalam belanja pun kita dihadapkan pada logika barcode, saat mau bayar...yang setingkat prof. dr. pun kadang gak menyadari bahwa itu dicipta dari logika...logika terapan, kapankan kita mau memulai..

sampai saat ini pun saya juga sedang mencari epistimologi kata "nilai", yang seakan menjadi anak pungut bangsa ini(tanpa ada silsilah/asal usul, sementara di inggris makna "value", "price", "worth" dalam ekonomui merupakan suatu makna yang berbeda...

saat ini makna "nilai" dalam ekonomi baik islam maupun non-Islam di Indonesia masih sulit untuk kita bedakan dan maknai.

adakah teks tentang "nilai" dalam kultur Indonesia terkini?

wassalam

bagio

Popular Posts

Guestbook Slide

Family Album

My Published Books

  © Blogger templates Islamic Philosophy by A Khudori Soleh Juni 2009

Back to TOP