Jumat, Desember 12, 2008

Homework After Pilgrim

PR Sepulang Haji
Oleh: A Khudori Soleh
ADA lima bentuk kebaikan yang diajarkan Allah pada kita (QS al-Baqarah, 177). Pertama, beriman kepada Tuhan. Iman adalah penentu diterima tidaknya perbuatan, juga penentu penilaian baik dan buruk. Dalam perspektif agama, perbuatan manusia tidak hanya berdimensi duniawi tetapi juga ukhrawi, tidak hanya material tetapi juga spiritual.
Sebuah tindakan dapat dianggap baik dan benar jika dilakukan sesuai dengan aturan-aturan yang ada pada kedua dimensi tersebut. Untuk dimensi material-duniawi, sebuah perbuatan dinilai baik jika bermanfaat atau memberikan dampak positif pada kemanusiaan, sedangkan dalam dimensi spiritual-ukhrawi, ia harus dilakukan di atas dasar niat untuk dan kepada Tuhan. Artinya, dalam hal ini, tidak bisa lain kecuali seseorang harus iman kepada Tuhan. Tanpa iman di dada, perbuatan tersebut tidak mempunyai nilai spiritual dan tidak mampu menembus alam ukhrawi. Ia tidak hidup dan tidak bermakna. Ia hanya berputar-putar di atmosfer bumi dan hanya dikenal di kalangan manusia tetapi tidak dikenal oleh Tuhan.
Kedua, memberikan nafkah kepada kaum kerabat, anak-anak yatim, fakir miskin, para peminta, dan lain-lain, atau yang dikenal dengan istilah pengentasan orang miskin. Soal kemiskinan dan ekonomi adalah masalah yang sangat penting dan rumit dalam kehidupan manusia. Kenyataan menunjukkan betapa banyak orang yang karena faktor ekonomi, karena miskin, kemudian rela menjual diri, keluarga, kehormatan, negara, bahkan menjual akidah. Penulis pernah terjun ke sebuah lokalisasi di Malang. Dari sekian banyak wanita penghuninya, ternyata tidak sedikit dari mereka yang mengerti agama, bahkan alumni pesantren, atau anak-anaknya di pesantren dan mereka tidak tahu bahwa ibunya bekerja di lumpur dosa. Mengapa bisa demikian? Jawabnya, karena ekonomi.
Ketiga, mendirikan shalat, puasa, haji, dan lain-lain dari bentuk-bentuk ibadah ritual. Keempat, menepati janji. Menepati janji yang paling utama dan berat adalah menepati janji pada diri sendiri. Ini mengandung konsekuensi bahwa seseorang mesti melakukan sesuatu sesuai dengan kemampuan dan keahliannya. Tidak memaksakan kehendak atau bahkan menghalalkan segala cara atas segala sesuatu di luar profesinya. Bentuk kebaikan inilah yang sekarang disebut perilaku profesionalisme.
Kelima, bersabar ketika dalam kesempitan dan kesusahan. Bersabar bukan berarti diam pasrah tanpa melakukan perlawanan. Sabar adalah melakukan tindakan dengan penuh perhitungan, strategi, dan taktik yang jelas agar tujuan akhir bisa tercapai, sesuai dengan kemampuan. Sabar berarti tidak melakukan perbuatan secara gegabah, semborono, dan tanpa perhitungan.
Pada kebanyakan, gerakan keagamaan dan sosial, kemandekan, dan kehancuran mereka lebih banyak karena tidak memedulikan masalah ini. Mereka terlalu tergesa-gesa dan ingin cepat hasil, tanpa melihat kesiapan dan kemampuan yang dimiliki. Al-Quran menyatakan, semua -gerakan- manusia akan rugi dan tidak mencapai hasil kecuali yang dilandasi empat hal: iman, kualitas SDM, dilakukan atas dasar kebenaran dan kesabaran (QS al-Ashr, 1-3). Artinya, modal iman, SDM yang berkualias, dan dasar yang benar saja ternyata tidak menjamin tercapainya tujuan. Masih perlu taktik dan strategi. Taktik dan strategi itulah yang dimaksud sabar.
Berdasarkan ayat tersebut, yang dinilai sebagai amal baik ternyata tidak hanya haji, shalat, puasa, atau yang lain dari bentuk-bentuk kegiatan ritual, tetapi mencakup juga tindak-tindak profesionalitas, perencanaan-perencanaan kegiatan secara matang, kegiatan-kegiatan sosial, perbaikan ekonomi, dan lain-lain. Bahkan, secara persentase, tindakan yang berhubungan dengan masalah sosial justru lebih banyak dibandingkan dengan ibadah ritual. Dari lima macam dan bentuk kebaikan yang ada, tiga di antaranya berhubungan dengan dimensi-dimensi sosial. Apalagi jika dilihat berdasarkan urutan penyebutan dalam ayat.
Kemiskinan disebutkan lebih dahulu dibandingkan dengan ibadah ritual seperti shalat, puasa, dan haji. Secara tidak langsung, urutan itu memberikan pemahaman betapa Islam sangat memperhatikan soal ekonomi, sekaligus menunjukkan bahwa masalah tersebut adalah lebih -minimal tidak kalah- penting dibanding dengan ibadah-ibadah ritual lain.
Karena itu, sepulang haji tidak berarti selesai atau sempurna sudah tugas ibadah kita. Haji dan ibadah-ibadah ritual lain hanya 40% total ibadah yang harus dilakukan. Masih banyak tugas yang harus diselesaikan, terutama masalah peningkatan ekonomi rakyat dan perilaku profesionalisme dalam dunia kerja. Masalah-masalah ini tidak dapat diselesaikan dengan teori-teori dan ceramah-ceramah keagamaan tetapi harus dengan tindakan konkret. Rasul melakukan tindakan nyata dalam mengatasi masalah-masalah tersebut. Misalnya, sebagaimana diriwayatkan, saat hari raya dijumpai ada anak kecil yang tidak ikut gembira bersama anak-anak yang lain, berpakaian kumal, dan menangis, ditanya oleh Rasul, mengapa? Jawab si bocah, karena ayahnya telah meninggal dan ibunya yang miskin tidak mempunyai uang untuk membelikan baju. Melihat kenyataan itu, Rasul tidak lantas mengatakan bahwa itu merupakan cobaan dan menyuruh si kecil bersabar. Sebaliknya, Rasul langsung mengajak si bocah pulang, memberinya pakaian dan mengambilnya sebagai anak, bersaudarakan Hasan dan Husain, yang sekarang dikenal dengan istilah "orang tua asuh". Di negara yang angka penganggurannya sangat tinggi dan tingkat ekonominya tidak kunjung naik ini, terlalu banyak masyarakat miskin yang memerlukan bantuan. Terlalu banyak kegiatan sosial yang macet karena tidak ada dana. Terlalu banyak anak putus sekolah dan terpaksa harus mengemis karena tidak punya uang SPP. Juga masih terlalu banyak lembaga pendidikan dan keagamaan yang mangkrak karena kekurangan dana. Selain itu, di negara yang tingkat korupsinya paling tinggi nomor dua di dunia ini, terlalu banyak pekerjaan yang dilakukan secara tidak profesional. Inilah PR utama yang harus segera diselesaikan sepulang haji.

Pernah dimuat dalam Harian SUARA MERDEKA, Semarang, Jum'at, 20 Februari 2004. Tulisan-tulisan yang lain, klik disini.

7 komentar:

Bahauddin Amyasi Jumat, Desember 12, 2008  

Sepakat...
Lagi-lagi sepakat Pak...
Jangan lupa komentarnya IMABA di respon, Pak.

Salam....

B├ílint Jumat, Desember 12, 2008  

Thank! This blog is nice too.

Mama Hilda Sabtu, Desember 13, 2008  

"Penulis pernah terjun ke sebuah lokalisasi di Malang. Dari sekian banyak wanita penghuninya, ternyata tidak sedikit dari mereka yang mengerti agama, bahkan alumni pesantren, atau anak-anaknya di pesantren dan mereka tidak tahu bahwa ibunya bekerja di lumpur dosa. Mengapa bisa demikian? Jawabnya, karena ekonomi."
betul, gencetan ekonomi terkadang memaksa seseorang untuk melakukan hal-hal yang dilarang agama, kaadal faqru an yakuuuna kufron...kadang kemiskinan menyebabkan seseorang terjerumus dalam kekafiran, manusiawi, hanya memang keimanan dan kesabaran adalah tameng yang ampuh agar dapat terhindar dari hal tersebut. Makasih kunjungannya mas, penggemar hasan hanafi sama bid jabiri juga rupanya ya...saya sedang membaca menyelesaikan baca bukunya jamal al banna juga ini, makasih kunjungannya..salam hangat dari PCI-NU islamabad

Maysaloon Sabtu, Desember 13, 2008  

Salam Aleikum and thank you for leaving me a comment!

baguz Senin, Desember 15, 2008  

betul...!

pemerintah banyak PR, tapi kok jadi rebutan ya..?, apakah hanya mau duitnya ajah.....


salam kenal pak....

Mi6u3 Selasa, Desember 16, 2008  

hi!!!! nice blog , I'm so happy for your visit in my blog..thankss.. goodbye from Chile!!!!!

Wide wirawaty Soemardhi Thaher For Senate (DPD RI) Sabtu, Desember 20, 2008  

Terimakasih atas kommenya di blog saya !!

blog bapak bahasannya bagus sekali!!!

Popular Posts

Guestbook Slide

Family Album

My Published Books

  © Blogger templates Islamic Philosophy by A Khudori Soleh Juni 2009

Back to TOP