Tampilkan postingan dengan label Puasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puasa. Tampilkan semua postingan

Sabtu, September 12, 2009

Sermon of Ied al-Fitri Celebration

Khuthbah Idul Fitri
Idul Fitri Bukan Kesalehan Liptsik

Oleh: A Khudori Soleh
Saat ini kita merayakan idul fitri setelah sebulan penuh melaksanakan puasa. Kita semua gembira dan merasa menang telah mengalahkan hawa nafsu selama satu bulan. Karena itu, kita tunjukkan kegembiraan dan kemenangan ini dengan memakai pakaian bagus, kendaraan baru, kita berikan senyum pada semua orang, kita berikan santunan kepada pihak-pihak yang lemah dan seterusnya. Ini tidak salah dan sah-sah saja. Akan tetapi, ada yang harus direnungkan kembali atas segala perilaku kita ini, karena al-Qur`an tidak menempatkan puasa sebagai tujuan yang patut kita syukuri setelah selesai menunaikannya. Dikatakan, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa…agar kamu menjadi taqwa.” (QS. al-Baqarah, 183).
Berdasarkan teks ayat tersebut jelas bahwa pelaksanaan puasa bukan tujuan melainkan “hanya” sarana untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi. Puasa adalah tindakan yang dilakukan atas dasar iman untuk mencapai tujuan tertentu, yaitu terbentukkan pribadi taqwa. Karena itu, adalah tidak pada tempatnya kita merasa gembira dan menang hanya setelah berhasil menggunakan sebuah sarana, atau setelah melewati suatu tahap pekerjaan tertentu, padahal kita tidak tahu apakah kita telah berhasil mencapai tujuan yang diharapkan dengan adanya sarana dan tahap pekerjaan tersebut.

Dasar Iman.
Dasar iman atas pelaksanaan puasa berkaitan dengan konsep baik dan buruk. Dalam Islam, apa yang disebut kebaikan dinilai dan didasarkan atas dua aspek. Aspek pertama berhubungan dengan dampaknya dalam kehidupan social sedang aspek kedua berhubungan dengan faktor spiritual yang menggerakkan si pelaku kearah timbulnya perbuatan tersebut.
Pada dimensi pertama, apa yang disebut tindakan baik diukur berdasarkan tingkat kemanfaatannya bagi kemanusiaan. Jika seorang membangun pesantren, membangun gedung-gedung pendidikan, membantu masyarakat yang terkena musibah, ikut melakukan kegiatan-kegiatan social dan sejenisnya, tidak pelak bahwa hal itu adalah perbuatan baik. Maksudnya, perbuatan-perbuatan tersebut bermanfaat bagi masyarakat banyak. Akan tetapi, hal itu belum tentu dianggap baik dalam dimensi kedua.
Pada dimensi kedua, apa yang disebut perbuatan baik tidak cukup hanya bermanfaat, tetapi harus juga dilihat niat dan tujuannya. Atas dasar apa dan untuk tujuan apa ia melakukan perbuatan tersebut. Jika seseorang melakukan sesuatu dengan tujuan yang bersih dan atas dorongan-dorongan suci, maka itu baru dapat dinilai sebagai perbuatan baik. Artinya, disana masih dilihat kebaikan niat si pelaku. Sebaliknya, jika ia melakukan amal atas dasar kepentingan politis, atau untuk keuntungan material duniawi, maka ia hanya baik dari aspek sosial tetapi gagal dari segi spiritual. Amalnya tidak naik keatas, tidak terekam dalam alam malakut. Ia memang telah memberikan pengabdian pada kemanusian tetapi belum mempersembahkan yang terbaik pada Tuhan, bahkan bisa jadi malah menghianati-Nya. Alih-alih ruhnya bisa naik, dengan perbuatannya yang tidak didasari niat baik dan tulus, ia justru meluncur ke tempat yang paling rendah.
Dengan demikian persoalannya tidak sederhana. Apa yang disebut amal baik (amal shaleh) tidak hanya diukur dari aspek social melainkan juga spiritual. Seberapapun besar pengabdian tapi jika tidak disertai niat dan tujuan yang baik, tidak akan mempunyai makna. Niat dan dan tujuan ini ibarat ruh bagi jasad. Suatu perbuatan (amal) akan bisa “hidup” sehingga terekam dalam alam malakut dan mampu naik ke Hadirat Ilahy, jika didasarkan atas niat dan tujuan semata-mata untuk Tuhan, atau yang disebut “ikhlash”. Pengabdian baik yang tidak “lillah” (tidak karena dan untuk Tuhan) secara otomatis juga tidak akan sampai kepada-Nya. Amalnya mati bagai jasad tanpa ruh. Ia hanya baik menurut manusia tapi hampa dalam pandangan Tuhan.
Pelaksanaan puasa –juga ibadah yang lain— harus dilandasi iman, karena hanya dengan iman seseorang menghubungkan segala perbuatannya kepada Tuhan. Puasa yang dilaksanakan atas dasar iman berarti puasa yang hidup yang akan mampu naik ke Hadlirat Ilahy, sehingga orang yang melakukannya akan diampuni dosa-dosanya. Sebaliknya, puasa yang tidak dilandasi iman hanya berputar di atmosfir bumi. Tidak bisa melesat ke ketinggian derajat spiritual karena memang tidak ada hubungan kesana.

Terbentuknya Pribadi Taqwa.
Dengan melakukan puasa yang dilandaskan iman diharapkan kita akan menjadi orang yang bertaqwa. Apa yang dimaksud taqwa? Para ulama menyatakan ada tiga tingkat sekaligus ciri orang taqwa. Pertama, senantiasa melaksanakan kebaikan dan meninggalkan kemaksiatan. Apa yang dianggap sebagai amal baik? Selama ini sebagian kita sering menganggap bahwa amal baik adalah berkaitan dengan ibadah mahdlah (ibadah tertentu) yang bersifat ritual seperti shalat, puasa, membaca al-Qur`an dan seterusnya. Sedemikian, sehingga ketika seseorang rajin shalat jamaah, shalat tahajud atau rajin membaca al-Qur`an, kita menganggapnya sebagai orang yang baik dan taat. Itu tidak salah tetapi semua perbuatan tersebut bukan satu-satunya. Al-Qur`an secara tegas menyatakan bahwa apa yang disebut amal baik bukan hanya shalat. Ada lima bentuk kebaikan yang disebutkan Tuhan yang semua itu harus juga kita lakukan (QS. al-Baqarah, 177).
(1) beriman kepada Tuhan, malaikat, nabi-nabi, kitab suci dan seterusnya. Jelasnya, menetapi rukun iman. Iman adalah penentu diterima dan tidaknya suatu perbuatan manusia. Seperti diuraikan diatas, apa yang disebut amal baik tidak hanya berdimensi duniawi melainkan juga ukhrawi. Jika manusia tidak beriman kepada Tuhan, bagaimana amalnya dapat sampai kepada-Nya?
(2) memberikan nafkah kepada kaum kerabat, anak-anak yatim, fakir miskin, para peminta dan lain-lain. Ini berhubungan dengan kehidupan sosial dan perekonomian. Dalam istilah sekarang, inilah yang disebut dengan istilah pengentasan kemiskinan.
(3) mendirikan shalat, puasa, haji dan lain-lain, atau mengerjakan rukun Islam. (4) menepati janji bila berjanji. Menepati janji yang paling utama dan paling berat adalah menepati janji pada diri sendiri. Disini mengandung konsekuansi bahwa seseorang mesti melakukan sesuatu sesuai dengan kemampuan dan keahliannya. Dalam istilah modern, inilah yang disebut prilaku profesional.
(5) bersabar ketika dalam kesempitan, kesusahan dan dalam peperangan. Sabar bukan berarti menerima apa adanya tanpa usaha. Sabar adalah melakukan sesuatu dengan penuh perhitungan, strategi dan taktik agar tujuan akhir bisa tercapai, sesuai dengan kemampuan yang ada. Artinya, orang yang bersabar tidak akan melakukan perbuatan secara gegabah, semborono dan tanpa perhitungan.
Dengan demikian, orang yang bertaqwa bukan sekedar rajin melakukan kegiatan ritual keagamaan melainkan juga mempunyai kesalehan social. Lebih dari itu, orang yang bertaqwa juga berperilaku professional serta mempunyai strategi yang jitu dalam mencapai masa depan yang lebih baik.
Kedua, senantiasa ingat Tuhan dan tidak melupakan-Nya. Artinya, orang yang bertaqwa senantiasa “bersama” dan “membawa” Tuhan dalam segala aktivitasnya. Ini tingkat yang lebih tinggi daripada yang pertama. Dalam tingkat pertama, seseorang memang telah mempunyai kesalehan spiritual dan social. Akan tetapi, semua itu masih lebih bersifat formal, temporal dan dilakukannya sebagai “kewajiban” atau beban. Kita kerjakan shalat karena kewajiban agama. Kita berlaku professional karena tuntutan pekerjaan, kita lakukan ini karena itu dan seterusnya. Sementara itu, pada tingkat kedua ini, semua tindakan dilakukan bukan sebagai kewajiban melainkan sebagai kebutuhan hidup. Kita melakukan shalat, membayar zakat, memberikan sedekah, membantu kaum miskin, berprilaku professional dan seterusnya bukan sebagai kewajiban atau tuntutan pekerjaan melainkan karena kebutuhan kita sebagai manusia dan yang hidup bersama yang lain. Dalam bahasa sufi Rabiah al-Adawiyah, semua itu dilakukan atas dasar cinta (hubb). Menurut para psikolog, sesuatu yang dilakukan atas dasar cinta akan lebih efektif, lebih efisien dan lebih berhasil guna dibanding sesuatu yang dilakukan atas dasar memenuhi kewajiban.
Selain itu, dalam tingkat kedua ini, perilaku-perilaku tersebut tidak dilakukan hanya sebagai tindakan formal yang dilakukan pada waktu dan tempat yang tertentu, melainkan dipahami dan dihayati untuk diterapkan dalam semua aktivitas. Berlaku professional tidak hanya di kantor, membantu anak yatim bukan hanya pada bulan Muharram, melakukan shalat dan ingat Tuhan bukan hanya pada waktu-waktu tertentu dan seterusnya. Lebih dari itu, kita mengingat-Nya dan menerapkan semua itu dalam seluruh tindakan kita, sehingga tidak mungkin orang yang bertaqwa khusyuk ibadah di masjid tetapi berlaku culas dalam binis, melakukan haji berkali-kali tetapi korupsi, sukses dalam karir tetapi mengabaikan hak-hak keluarga di rumah, dan seterusnya. Akan tetapi, yang ada pada kita selama ini sebagai bangsa dan masyarakat justru lebih memperhatikan aspek formal daripada substansial dan aspek ritual daripada social, sehingga kita adalah bangsa yang paling banyak mengirimkan jamaah hajinya sekaligus bangsa yang paling korup di dunia. Kita sibuk dengan soal qunut, jumlah shalat taraweh, perbedaan hari raya, tetapi lupa nasib teman-teman kita yang digusur, TKI illegal yang dipulangkan, perilaku politik wakil rakyat yang arogan dan seterusnya. Dalam dunia pendidikan, kita sibuk dengan angka-angka dan nama gelar lulusan tetapi lupa apakah kualitas lulusan kita benar-benar kualifaid dan mampu bersaing dengan yang lain. Dalam konteks ini, apakah kita layak mengaku telah berhasil menunaikan puasa?
Ketiga, bersyukur dan tidak melakukan kekufuran. Menurut Abd Salam, syukur berarti optimalisasi segala nikmat dan potensi yang dimiliki: kekuasaan, kekayaan dan intelektual untuk kebaikan manusia sehingga nikmat tersebut semakin bertambah. Ini tingkat tertinggi dari pribadi taqwa. Pada tingkat ini kita tidak sekedar melakukan segala sesuatu atas dasar cinta melainkan bagaimana dapat memberikan kemanfaatan sebesar-besarnya pada orang lain. Patokannya adalah bagaimana kekuasaan yang kita pegang, kekayaan yang kita miliki dan kecerdasan yang kita punyai mampu memberikan kontribusi positif kepada kemanusiaan, tanpa memperdulikan perbedaan organisasi, golongan, ras, suku bahkan agama. Dalam konteks ini, mengikuti istilah Ibn Arabi, bagaimana kita menjadi insân kamîl, manusia utama yang menjadi kaki tangan Tuhan dalam memberikan rahmat kepada segenap makhluk.

Penutup.
Itulah yang diharapkan dari pelaksanaan puasa yang kita lakukan selama ini dan yang dimaksud idul fitri. Idul fitri bukan sekedar pakaian baru, salam-salaman atau senyum-senyum beberapa hari. Idul fitri bukan kesalehen lipstik, kesalehan dan keramahan sesaat seperti yang biasa kita lakukan. Idul fitri berarti munculnya pribadi utama yang bukan hanya mampu melakukan segala amal dan perilaku atas dasar cinta tetapi juga sanggup mengaktualisasikan segala nikmat dan potensi dirinya untuk Tuhan dan kemanusiaan. Sanggup melihat bahwa yang ada pada dirinya bukan miliknya yang dapat digunakan untuk kepentingan pribadi tetapi amanah yang harus dijalankan sesuai harapan pemiliknya, Tuhan. Kewajiban mengeluarkan zakat fitrah sesungguhnya adalah lambang dan ajaran tentang munculnya pribadi yang dimaksud.
Karena itu, jika saat ini kita belum berubah, belum teridentifikasi pribadi taqwa, pantaskah kita merasa telah berhasil melakukan puasa dan beridul fitri? Dalam konteks sekarang, layakkah kita tersenyum lebar, merasa menang dan ikut lebaran?

Pernah disampaikan dalam Khutbah Idul Fitri, 14 Nopember 2004 di Masjid al-Tarbiyah UIN Malang. Tulisan yang lain, klik disini

Read more...

Minggu, September 06, 2009

Economy More Importance than Fasting

Ekonomi Lebih Penting Dari Puasa
Oleh: A Khudori Soleh
Al-Qur'an menyatakan bahwa apa yang disebut kebaikan tidak hanya kalau kita menghadapkan wajah ke timur dan ke barat (shalat). Kebaikan adalah beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi; memberikan harta yang dicintai kepada kerabat, anak-anak yatim, orang miskin, musafir dan peminta-minta; mendirikan shalat, menunaikan zakat; menepati janji; sabar dalam kesempitan, penderitaan dan peperangan (QS. al-Baqarah, 177).
Berdasarkan ayat tersebut berarti ada lima jenis kebaikan yang diberikan Tuhan. Pertama, beriman kepada Tuhan, malaikat, nabi-nabi, kitab suci dan seterusnya. Jelasnya, menetapi rukun iman. Iman berkaitan dengan hati dalam hubungannnya dengan Yang Maha Tinggi. Karena itu, dalam agama, iman menentukan diterima tidaknya suatu perbuatan. Juga penentu dalam soal baik dan buruknya amal manusia.
Perbuatan manusia tidak hanya berdimensi duniawi, tetapi juga ukhrawi; tidak hanya sosial tetapi juga spiritual, yang masing-masing mempunyai penilaian tersendiri. Sebuah perbuatan bisa dikatakan baik dan benar jika dilakukan sesuai dengan aturan-aturan yang ada pada kedua dimensi tersebut. Untuk dimensi duniawi, dimensi sosial, perbuatan dinilai baik jika memberi manfaat dan dampak positif kepada kemanusiaan. Sedang untuk kebaikan ukhrawi, dimensi spiritual, perbuatan baik adalah perbuatan yang dilakukan semata-semata mencari ridla Tuhan.
Artinya, perbuatan tersebut mesti didasari niat ihlas dan hanya ditujukan atau dipersembahkan kepada Tuhan, bukan demi atasan, mencari kedudukan, demi meraih simpati massa dalam pemilu dan sejenisnya. Dan ini tidak bisa dilakukan kecuali dengan beriman kepada Allah. Tanpa adanya iman kepada Tuhan, ruh perbuatannya tidak akan bisa menembus ke alam ukhrawi, alam spiritual. Tidak hidup dan tidak bermakna. Ia hanya berputar-putar di atmosfir bumi dan hanya dikenal dikalangan manusia, tetapi tidak dikenal oleh Tuhan.
Kedua, memberikan nafkah kepada kaum kerabat, anak-anak yatim, fakir miskin, para peminta dan lain-lain. Pemberian nafkah kepada mereka tentu tidak cukup hanya dengan memberikan dana ala kadarnya, atau membantu kaum fakir pada waktu-waktu tertentu, tetapi membantu mereka bagaimana bisa mandiri yang sekarang dikenal dengan istilah pengentasan kemiskinan.
Ketiga, mendirikan shalat, puasa, haji dan lain-lain. Atau, mengerjakan rukun Islam. Keempat, menepati janji bila berjanji. Janji yang paling utama dan paling berat adalah janji pada diri sendiri. Ini mengandung konsekuansi bahwa seseorang mesti melakukan sesuatu sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, sesuai dengan keahliannya, bukan yang di luar itu. Orang yang memegang janji pada diri sendiri tidak akan melakukan tindakan-tindakan yang ada di luar batas kemampuannya atau di luar batas kewenangannya, apalagi memaksakan kehendak dengan menghalalkan segala cara. Dalam bahasa modern, inilah yang dimaksud dengan istilah profesional.
Kelima, bersabar ketika dalam kesempitan, kesusahan dan dalam peperangan. Dalam kondisi yang benar-benar sulit seperti saat ini, sabar bukan berarti tenang dan pasif menunggu takdir. Sabar adalah melakukan usaha dengan penuh perhitungan, strategi dan taktik agar tujuan akhir bisa tercapai, sesuai dengan kemampuan yang ada. Artinya, orang yang bersabar tidak akan melakukan tindakan secara gegabah dan semborono tanpa perhitungan.
Pada kebanyakan perjuangan moral seperti yang dilakukan mahasiswa saat ini, atau gerakan-gerakan keagamaan dan sosial, kemandegan dan "kehancuran" mereka lebih karena tidak diperdulikannya persoalan ini. Mereka terlalu tergesa dan ingin ceat mendapat hasil, tanpa melihat bagaimana kondisi yang ada, bagaimana kesiapan dan kemampuan yang dimiliki. Al-Qur'an jauh-jauh telah memperingatkan bahwa pada era modern kelak, atau pada saat moralitas diabaikan, kebenaran dan kemanusian dicampakkan, gerakan-gerakan moral dan perjuangan kebenaran tidak akan membawa hasil, kecuali yang dilandasi empat hal; iman, SDM yang berkualitas, dilakukan atas dasar kebenaran dan kesabaran (QS. Al-Ashr). Artinya, dalam sebuah perjuangan demi kebanaran sekalipun, modal iman atau optimisme dan kualitas SDM yang baik tidak menjamin tercapainya keberhasilan. Perlu taktik dan strategi. Dan inilah yang dimaksud dengan sabar.

Lebih Penting.
Dalam herarkhi penyebutan lima jenis kebaikan di atas, Tuhan menempatkan persoalan kemiskinan dan ekonomi pada urutan kedua, sebelum menyebut kategori ketiga; tentang shalat, puasa, haji dan lainnya dari rukun Islam.
Urut-urutan ayat tersebut tentu tidak sembarangan. Dengan urutan seperti itu bisa diartikan bahwa Tuhan sangat memperdulikan persoalan ekonomi. Dengan menempatkan soal pemberian nafkah kepada keluarga, fakir miskin dan pengemis di atas pelaksanaan shalat, zakat, puasa dan seterusnya menunjukkan bahwa persoalan ekonomi dan pengentasan kemiskinan adalah lebih penting, minimal tidak kalang penting, dibanding dengan ibadah-ibadah yang lain, hatta pelaksanaan shalat yang dianggap sebagai tiang agama dan puasa yang kita lakukan sekarang.
Rasul sendiri, dalam beberapa haditsnya menunjukkan betapa pentingnya soal ekonomi atau pengentasan kemiskinan. Disabdakan bahwa maju mundurnya sebuah bangsa atau kebudayaan sangat dipengaruhi faktor ekonomi --disamping penguasaan ilmu pengetahuan. Rasul tidak menyebut yang lain. Misalnya, kalau masyarakat muslim rajin wiridan, rajin istighasah, berkali-kali naik haji, rajin puasa, tahlilan atau yang lain.
Sejalan dengan itu, dalam Muqaddimah, Ibn Khaldun menyatakan bahwa kemakmuran (ekonomi) adalah pendorong maju mundurnya sebuah peradaban. Di kota-kota Islam abad pertengahan, seperti Baghdad, Kordova, Basrah, Kufah dan lainnya, sains dan peradaban berkembang pesat ketika kemakmuran menyelimuti penduduk negeri. Sebaliknya, ketika kemakmuran kota-kota tersebut menurun, peradaban dan perkembangan sainspun ikut surut. Pindah ke kota-kota lain yang lebih makmur.
Pernyataan tersebut diperkuat para sarjana modern seperti JD. Bernal. Dalam bukunya "Science in History", ia menyatakan bahwa periode-periode tumbuh sumburnya peradaban dan sains sejalan dengan aktivitas perekonomian. Jejak dan perkembangan sains, mulai dari Mesir kuno dan Mesopotamia hingga Yunani, dari Spanyol Islam hingga Renaisans Italy, bahkan dari Perancis menuju revolosi industri di Skotlandia dan Inggris, semua persis berjalan sesuai dengan perkembangan ekonomi dan industri.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa menyaksikan bagaimana pentingnya soal ekonomi ini dalam masyarakat. Banyak karena alasan ekonomi dan kemiskinan, seseorang kemudian rela menjual diri, keluarga, kehormatan, negara dan bahkan menjual aqidah. Dan akhir-akhir ini, banyak orang stres kemudian mudah terpancing melakukan tindakan kriminal juga karena alasan ekonomi. Penulis sendiri pernah terjun ke sebuah lokalisasi di Jawa Timur. Dari sekian banyak wanita penghuninya, tidak sedikit dari mereka yang mengerti agama. Bahkan ada yang alumni sebuah pesantren, atau anak-anaknya di pesantren dan mereka tidak tahu bahwa ibunya bekerja di lumpur dosa. Mengapa bisa demikian? Jawabnya sangat klise tapi nyata, yaitu karena tekanan ekonomi dan kemiskinan.
Menghadapi persoalan-persoalan sosial seperti ini, jelas tidak cukup dengan pidato di atas mimbar atau di televisi bahwa lokalisasi haram, zina adalah dosa dan lain-lain. Harus dilihat dan diatasi akar permasalahannya. Yakni, bahwa mereka harus dientas dan dibantu tekanan ekonominya. Tanpa itu, ceramah-ceramah keagamaan, membinaan mental, penataran dan sejenisnya hanya akan dianggap angin lalu, atau sedikit hiburan --karena ceramah agama sering banyak guyonannya-- ditengah-tengah kerasnya persaingan hidup.
Rasul sendiri melakukan tindakan nyata dalam mengatasi persoalan-persoalan ekonomi dan kemiskinan. Ketika dijumpai ada seorang anak kecil tidak ikut bergembira bersama teman-temannya, karena ibunya yang miskin tidak mempunyai uang untuk membelikan baju baru untuknya, Rasul tidak lantas mengatakan bahwa itu merupakan cobaan dan menyuruh si kecil bersabar. Sebaliknya, Rasul langsung mengajak pulang si bocah, memberinya pakaian dan mengambilnya sebagai anak, bersaudarakan Hasan dan Husain. Atau, kalau sekarang dikenal dengan istilah "orang tua asuh".
Karena itu, bersamaan dengan pelaksanaan puasa Ramadlan kali ini, ada satu hal yang harus direnungkan, apakah kita juga telah punya kepedulian terhadap orang-orang miskin? Apakah kita telah membantu meringankan beban orang-orang yang terlantar, yang tergusur, yang telah diambil paksa hak-hak kehidupannya? Karena itu, sangat trages jika pada saat kita sibuk berpuasa dan berusaha meningkatkan kualitas spiritual, tetapi di Yakuhima, Papua (menurut informasi Metro TV, 5/09/09) terjadi bencana kelaparan yang konon sampai merenggut sampai 113 nyawa orang meninggal.

Artikel ini dan lainnya tersimpan dalam document scribd. Untuk mengaksesnya, klik disini.

Read more...

Jumat, Agustus 07, 2009

Fast Be Not Simply to Hungry

Menyambut Ramadlan:
Puasa Bukan Sekedar Untuk Berlapar-Lapar

Oleh: A Khudori Soleh
SETIAP perbuatan, pada dasarnya, mengandung dua dimensi, dan masing-masing memiliki penilaian tersendiri. Bisa jadi suatu perbuatan dianggap baik menurut dimensi yang satu, tetapi buruk menurut dimensi yang lain. Sebaliknya, bisa juga dinilai baik menurut keduanya, atau jelek menurut keduanya. Yang pertama berhubungan dengan dampaknya dalam kehidupan masyarakat. Yang kedua berhubungan dengan faktor psikologis dan spiritual yang menggerakkan si pelaku kearah timbulnya perbuatan tersebut.
Pada dimensi pertama, kita harus melihat sampai sejauh mana perbuatan itu berguna dalam masyarakat. Bila seseorang membangun lembaga pendidikan, lembaga perekonomian, tempat-tempat ibadah atau turun ke bawah membantu rakyat kecil misalnya, maka tidak pelak bahwa hal itu -dari perspektif sosial - merupakan perbuatan baik. Maksudnya, perbuatan-perbuatan tersebut bermanfaat bagi masyarakat banyak. Akan tetapi, apakah hal itu juga dianggap baik menurut dimensi kedua?
Pada dimensi kedua, apa yang disebut perbuatan baik tidak cukup hanya karena bermanfaat saja, tetapi harus juga dilihat niat dan tujuannya. Juga dilihat dari segi apa sebenarnya yang dikehendaki dari perbuatan itu. Apabila ia melakukan perbuatan tersebut dengan tujuan yang baik dan niat yang bersih, serta atas dorongan-dorongan suci, maka itu baru bisa dikatakan perbuatan baik. Artinya, di sana perlu ditambah kebaikan niat si pelaku, sehingga ia bisa menjadi amal yang memberikan kebaikan pada dimensi-dimensinya; dimensi sosial dan dimensi spiritual.
Sebaliknya, bila ia melakukannya atas dasar keuntungan materi duniawi, mencari penghargaan, atau riya', maka ia hanya berhasil (baik) dari segi sosial, tetapi gagal dari segi spiritual. Amalnya tidak naik ke atas, tidak terekam dalam alam malakut. Ia memang telah memberikan pengabdian kepada masyarakat, tetapi belum mempersembahkan yang terbaik kepada Tuhan, bahkan bisa jadi malah mengkhianati-Nya. Alih-alih rohnya bisa naik, dengan perbuatannya yang tidak didasari niat yang baik itu, ia justru meluncur ke tempat yang paling rendah.
Dengan demikian, persoalannya tidaklah sederhana. Perbuatan baik tidak hanya diukur dari segi lahirnya saja. Niat dan pemikiran juga mempunyai peranan yang - bahkan - amat penting. Bagaimanapun besar perbuatan itu, bila tidak disertai niat dan tujuan yang baik, tidak akan mempunyai makna. Namun, hal itu bukan berarti kita harus lebih mengutamakan aspek spiritual tanpa mempedulikan kebaikannya dalam masyarakat. Tidak! Sama sekali tidak. Keduanya harus berjalan seiring. Bahkan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Dalam Islam, suatu perbuatan itu bagai bentuk manusia; terdiri atas jasad dan roh. Raga atau jasad perbuatan adalah perbuatan itu sendiri yang tampak secara lahir. Sedang rohnya adalah niat dan tujuan yang mendasarinya. Agar suatu perbuatan (amal) bisa hidup, bisa terekam dalam alam malakut dan mampu naik menembus hijab untuk hadir di Hadirat Ilahi, maka ia harus didasari niat dan tujuan karena Allah. Harus diarahkan kepada Yang Tertinggi dan Yang Suci. Atau harus ikhlash menurut istilah pesantren. Perbuatan baik yang tidak lillah (tidak karena dan menuju kepada Allah): hanya untuk tujuan duniawi, maka amalnya juga tidak bisa naik kepada Allah. Amalnya mati seperti jasad yang tanpa roh. Ia hanya baik (berguna) menurut pandangan manusia, tapi hampa menurut Allah. Tidak punya makna.
Itulah yang dimaksud amal sholeh menurut istilah Al Quran. Yaitu amal yang berkualitas, amal yang punya ruh, sehingga bisa naik ke Hadirat Ilahi. Dan amal seperti inilah yang akan diperhitungkan (diakui) Allah di hari pembalasan kelak sebagaimana diisyaratkan. Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan, untuk menguji kalian, siapa yang lebih baik amalnya... (QS. 67:2). Dalam ayat tersebut, tuntutannya bukan aktsarul amal (yang terbanyak amalnya) tetapi ahsanul amal (yang terbaik amalnya). Yaitu, amal yang di samping punya nilai-nilai sosial, juga mengandung realitas maknawi sehingga menjadi amal yang hidup.
Karena itulah, mengapa - khususnya - dalam perintah puasa ramadhan, Allah memulainya dengan kata 'iman'. Hai orang-orang yang 'beriman', diwajibkan atas kamu berpuasa... (QS. 2;183). Iman adalah kunci tersampaikannya amal kepada Allah. Dengan landasan iman, seseorang berarti telah menghubungkan segala perbuatannya kepada Yang Tertinggi. Puasa yang dilaksanakan atas dasar iman berarti puasa yang hidup, yang akan mampu naik ke atas untuk hadir di Hadirat Ilahi. Sedemikian, sehingga dosa-dosa orang yang mengerjakan puasa diampuni oleh Allah. Dan hanya Allah yang tahu akan persentase kebaikannya. Siapa yang melakukan puasa Ramadlon atas dasar iman, akan diampuni dosanya yang telah lalu, kata Rasul. Sedang puasa yang tidak dilandasi iman hanya berputar di atmosfir bumi. Tidak bisa melesat ke ketinggian derajat rohani, karena memang tidak ada hubungan ke sana.

Bukan untuk berlapar-lapar
Tujuan diperintahkannya puasa ramadhan adalah agar terbentuk pribadi taqwa pada diri pelakunya. ...diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa (QS. 2;183).
Imam Qusyairi, dengan menguraikan masing-masing huruf hijaiyah pembentuk kata 'taqwa', memberikan ciri-ciri orang yang bertaqwa sebagai berikut. Pertama, tawadlu. Maksudnya, sopan santun, tidak sombong, tidak berbuat sewenang-wenang. Orang yang bertakwa menyadari bahwa dirinya bukan apa-apa. Apa yang ada pada dirinya; pangkat, kedudukan, jabatan atau kekayaan, hanyalah barang titipan, yang pada saatnya nanti akan diambil oleh Allah-lah pemiliknya yang hakiki. Karena itu, sungguh tidak pantas menyombongkan diri dengan modal barang titipan.
Kedua, qonaah. Maksudnya, bersikap sederhana. Ia kelanjutan dari sifat yang pertama. Bila seseorang telah mampu menyadari siapa dirinya dan mampu menekan egonya yang tidak baik, maka ia tidak akan bersikap neko-neko. Tidak ambisius untuk mencapai sesuatu dengan jalan yang tidak benar. Bahkan Rasul mengajarkan agar kita tidak memberikan sesuatu atau jabatan kepada orang yang berambisi untuk meraihnya. Dan ternyata itu benar. Kita bisa melihat, bagaimana model orang yang mencapai jenjang jabatan dengan cara yang tidak bersih, tidak jujur; memakai sogok atau yang lain. Yang menjadi program pertamanya, begitu ia menduduki jabatan, adalah bagaimana "modalnya" bisa kembali. Tentang kesejahteraan rakyat, nomor akhir menjelang pensiun.
Dalam alam demokrasi, jabatan atau kedudukan tentu bukan barang warisan, apalagi perdagangan. Kekuasaan adalah amanat dan kepercayaan rakyat, dan semua itu akan dimintai pertanggungjawaban. Tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat. Kalau di dunia, di hadapan sidang majelis yang - mungkin - sama-sama bolo kurowo, bisa dikompromi, tetapi bagaimana nanti di hadapan Tuhan. Apa yang kamu berikan kepada rakyat selama kamu memegang kekuasaan? Apakah mereka justru semakin sengsara? Semakin tergusur?
Selanjutnya, ciri yang ketiga, wara; menjaga diri dari semua perbuatan dan makanan yang tidak halal. Orang yang bertakwa tidak akan melakukan penyelewengan, tidak akan korup dan tidak akan melakukan perbuatan yang tidak benar. Bagai tingkah laku lebah, mereka selalu selektif dalam mengambil makanan dan melakukan perbuatan. Tidak akan jatuh kepada hal-hal yang tidak benar.
Ciri terakhir, keempat, adalah yakin. Karena ibadah dan imannya yang kuat, orang yang bertakwa amat dekat dengan Kholiqnya. Ia punya sandaran vertikal yang kukuh. Sedemikian, sehingga bagaimanapun berat dan sulitnya perjuangan yang harus dihadapi, ia tidak akan putus asa. Yakin, Allah pasti tidak akan membiarkan hamba-Nya yang beriman.
Untuk mencapai puasa yang punya hasil dan pengaruh yang demikian besar, tentu tidak dilakukan dengan asal saja. Perlu riyadloh dan mujahadah yang sungguh-sungguh. Al-Ghozali menyatakan, orang yang berpuasa harus mengawasi seluruh aktivitas anggota badannya. Ia harus memelihara pandangannya, ucapan, kedua tangan, kaki, perut dan kemaluan agar tidak terjatuh dalam dosa. Sebab, semua itu akan bisa menghancurkan kegunaan puasanya. Rasul pernah bersabda, "Banyak orang yang puasa tidak mendapat apa-apa kecuali lapar dan dahaga, karena tidak mampu mengontrol perbuatannya".
Demikianlah, puasa sesungguhnya adalah ibadah yang istimewa. Ia memiliki dimensi-dimensi yang dalam dan tujuan-tujuan yang luhur. Puasa bukan sekadar untuk berlapar-lapar.

Pernah dimuat dalam Harian KOMPAS, Jakarta, Sabtu, 18 Januari 1997 dan saat ini arsipnya juga tersimpan dalam Perpustakaan Ohiou University, USA. Untuk tulisan-tulisan lainnya, klik disini.

Read more...

Minggu, September 07, 2008

Fast, Between Shiyam and Shaum

Puasa, Antara Shiyam dan Shaum
Oleh: A Khudori Soleh
Kata “puasa” dengan segala bentuknya, dalam bahasa Arab, disebut 13 kali dalam al-Qur`an. Paling sering digunakan istilah shiyâm dan hanya satu kali dengan kata shaum. Meski demikian, kata shaum mengandung makna lebih dibanding shiyâm. Shiyâm hanya berarti berpuasa dengan mencegah makan, minum dan “bergaul” dengan dengan istri mulai fajar sampai maghrib, sedang shaum mencegah lebih dari apa yang tidak boleh dalam shiyâm, yaitu harus mencegah bicara, mencegah mendengar, mencegah melihat, dan bahkan mencegah pikiran. Dalam pandangan al-Ghazali, shiyâm inilah bentuk puasa yang sesungguhnya yang akan mengantarkan manusia kepada derajat taqwa, sedang Shiyâm adalah perilaku puasa syareat, puasa masyarakat awam, sedang shaum adalah perilaku puasa hakekat, puasa orang-orang pilihan. Al-Qur`an sendiri menggunakan kata shaum –dan hanya satu kali-- dalam kaitanya dengan perilaku puasa Maryam, manusia suci bunda (QS. Maryam, 26).

Puasa Bicara
Perilaku pertama dari shaum, seperti dijelaskan al-Qur`an soal Maryam, adalah puasa bicara. Puasa bicara yang dimaksud ini bukan sekedar menahan lidah untuk mencaci, menggunjing, menghujat atau bicara kotor lainnya, karena semua itu memang sudah terlarang meski tidak dalam keadan puasa sekalipun. Dalam puasa bicara berarti kita hanya berbicara yang benar-benar perlu dan bermanfaat. Pada sebagain besar waktu, kita diam. Selanjutnya, puasa bicara berarti tidak akan berbicara tentang sesuatu yang tidak kita pahami. Tidak akan berbicara sekedar untuk menunjukkan bahwa kita adalah orang pinter. Tidak akan menjadi pengamat dan pakar dalam semua bidang. Saat ini, kita sering mendengar komentar dan uraian di media massa yang justru menyebabkan masyarakat menjadi bingung, gelisah dan takut. Artinya, komentar-komentar kita telah menyebabkan penderitaan banyak orang. Padahal, Rasul menyatakan “orang Islam adalah seseorang yang orang lain selamat dari gangguan lidah dan tangannya”. Dalam konteks ini, apakah kita masih layak dianggap sebagai orang Islam?
Ada banyak manfaat, sesungguhnya, yang dapat diperoleh dari puasa bicara ini. Antara lain, pertama, munculnya kemampuan mendengar secara baik. Dalam keluarga, konflik antara suami dan istri atau orang tua dan anak sering terjadi karena semua fihak hanya ingin bicara tetapi tidak mau mendengarkan. Dalam kehidupan bernegara, bencana terjadi karena elit politik hanya belajar bicara tetapi tidak belajar mendengarkan. Jika kita serentak melakukan puasa bicara, khususnya pada bulan Ramadlan ini, kita akan menikmati bulan suci dan juga kehidupan ini dengan penuh kedamaian serta kesejukan.
Kedua, adanya kemampuan untuk mendengar bisikan hati nurani secara lebih jernih. Hati nurani (qalb) yang merupakan taman Tuhan dalam diri manusia adalah tempat atau sarana dimana Tuhan menyampaikan petunjuk-Nya. Selama ini kita tidak sanggup mendengar bisikan Tuhan dalam hati karena kita terlalu banyak ngomong. Kita menjadi tuli karena suara bising dari omongan kita sendiri. Lebih dari itu, dalam kisah Maryam, karena Maryam puasa bicara,Tuhan menjadikan bayi dalam buaiannya berbicara dengan amat jelas. Bayi itulah yang menjawab hujatan banyak orang ketika Maryam kembali dari mihrab dengan mengendong bayi.

Puasa Mendengar
Puasa mendengar bukan hanya menghidarkan diri dari mendengarkan gossip, fitnah atau kata-kata kotor, karena semua itu jelas tidak boleh kita lakukan walau saat tidak berpuasa. Puasa mendengar berarti berusaha secara sadar dan sungguh-sungguh menyeleksi apa yang kita dengar. Kita hanya mendengarkan apa yang dianggap manfaat. Jika disana banyak hal yang bermanfaat, kita hanya akan mendengarkan yang paling manfaat saja.
System syaraf, otak dan mental manusia bukan tidak terbatas. Pada titik tertentu ia juga dapat mengalami kejenuhan, kelelahan dan bahkan kolaps. Sebagaimana komputer, jika terlalu banyak informasi yang harus diolah, otak bisa mengalami overload. Kita akan mengalami kelelahan fisik dan bahkan gangguan mental, sehingga tidak dapat memberi makna pada berbagai peristiwa. Kenyataan menunjukkan, banyaknya informasi dan tekanan untuk memberikan makna pada kehidupan telah membuat kita menjadi mudah tersinggung, pemarah dan angresif.
Karena itu, Ashley Montague, misalnya, menyebutkan bahwa ketergantungan pada media massa sebagai salah satu sebab dehumanisasi manusia modern. Penonton televisi kelas berat, heavy viewers, cenderung melihat dunia lebih tidak aman dan karenanya mereka menjadi lebih ketakutan dibanding penonton televisi ringan atau masyarakat lain. Pada saat sering terjadi demonstrasi dan isu bom seperti beberapa waktu lalu, misalnya, orang-orang kota yang sering membaca koran, melihat televisi dan mendengarkan radio, memandang Indonesia jauh lebih kacau dan tidak aman daripada penglihatan masyarakat kampung. Karena itu, mereka juga menjadi lebih resah, lebih takut dan bisa-bisa lebih agresif. Dari sini dapat kita pahami mengapa sebagian orang modern ada yang berusaha mencari kedamaian dan ketentraman hati dengan meninggalkan televisi, radio dan media massa lainnya.

Puasa Melihat
Perilaku ketiga dari puasa sufi adalah puasa melihat. Seperti dua perilaku sebelumnya, puasa melihat bukan sekedar tidak melihat sesuatu yang dilarang, karena hal itu juga tidak boleh kita lakukan pada saat tidak berpuasa. Puasa melihat berarti kita tidak akan melihat sesuatu yang tidak perlu, atau bahkan mengurangi melihat sesuatu yang sebenarnya boleh dilihat. Dalam al-Qur`an, Tuhan memerintahkan orang-orang mukmin untuk menundukkan pandangannya dan menjaga kehormatannya (QS. al-Nur, 30).
Dalam kehidupan sehari-hari, sebenarnya, tidak ada salahnya kita keluar sejenak untuk melihat-lihat sesuatu atau berjalan melihat pusat-pusat perbelanjaan. Namun, makin banyak sesuatu yang kita lihat makin besar pula keinginan-keinginan yang muncul. Keinginan yang tidak terpuaskan dan tidak tercapai akan menimbulkan kekecewaan. Menurut para psikolog, kekecewaan adalah perbandingan antara want dan get. Jika keinginan lebih besar dari perolehan, kita akan mengalami kekecewaan. Makin tinggi keinginan makin besar pula kemungkinan kita frustasi, dan sumber semua keinginan tersebut kebanyakan berasal dari apa yang kita lihat. Karena itu, jika dalam bulan Ramadlan ini kita belajar menundukkan pandangan, Insya Allah, kita akan merasakan kelezatan spiritual. Rasul sendiri menyatakan, “siapa yang memelihara pandangannya, ia akan merasakan lezatnya iman”.

Puasa Pikiran
Puasa pikiran bukan sekedar menahan pikiran-pikiran kotor dan jahat tetapi merupakan usaha secara sadar dan sunguh-sungguh untuk mengendalikan pikiran dan angan-angan yang bersifat materialistik. Kita tidak dapat mencapai hal itu kecuali terlebih dahulu melakukan puasa bicara, puasa mendengar, puasa melihat dan puasa atas indera-indera eksternal. Sulit bagi kita mengendalikan fakultas batin dan pikiran jika indera-indera eksternal tidak ditutup dan dibiarkan memberikan masukan-masukan yang materialistic.
Syeh Abd al-Qadir Jailani menyatakan, seseorang tidak akan bertemu Tuhan Yang Maha Agung jika dalam pikirannya masih ada keinginan-keinginan ukhrawi, dan ia tidak akan mencapai kebahagiaan ukhrawi jika dalam pikirannya masih ada nafsu-nafsu rendah duniawi. Artinya, kita harus meninggalkan angan-angan dan pikiran rendah duniawi demi mencapai kemuliaan akherat, dan lebih dari itu, kita bahkan harus membuang angan-angan kemuliaan akherat itu sendiri demi mencapai Tuhan, Dzat yang mempunyai kemuliaan dunia akherat.
Itulah perilaku puasa yang sesungguhnya, puasa yang dilakukan atas nama dan demi mendekatkan diri pada Tuhan. Ia bukan sekedar menahan makan dan minum melainkan usaha secara sadar untuk menjaga segala aktivitas indera lahir batin, karena puasa pada dasarnya dilakukan atas dasar iman demi mencapai taqwa (QS. al-Baqarah, 183). Itulah bedanya shiyam dan shaum. Puasa yang bagaimanakah yang kita lakukan Ramadlan ini? Sekedar shiyam atau kita tingkatkan menjadi shaum?

Artikel ini dan lainnya tersimpan dalam document scribd. Untuk mengaksesnya, klik disini

Read more...

Rabu, Agustus 27, 2008

Two Keywords of Fasting

Dua Kata Kunci Puasa
Oleh: A Khudori Soleh
Ada dua kata kunci dalam pelaksanaan puasa. Pertama, adalah iman. Dalam al-Qur’an, Allah secara tegas menyatakan, “Hai orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa… (QS. Al-Baqarah, 183). Mengapa harus beriman? Ini berkaitan dengan system penilaian. Dalam Islam, baik buruknya suatu perbuatan dinilai berdasarkan dua sisi sekaligus. Yang pertama dari aspek social. Yaitu, sejauh mana perbutan tersebut memberikan manfaat pada masyarakat. Jika seseorang membangun lembaga pendidikan, membantu lembaga perekonomian, tempat-tempat ibadah atau turun ke bawah membantu rakyat kecil, tidak pelak bahwa itu akan dinilai sebagai perbuatan baik. Yang kedua dinilai dari aspek niat dan tujuannya. Untuk apa dan untuk siapa ia melakukan itu? Jika seseorang melakukan perbuatan dengan tujuan yang baik dan niat yang bersih, serta atas dorongan-dorongan suci, maka ia dinilai sebagai perbuatan baik.
Sebaliknya, bila ia melakukan amal atau perbuatan atas dasar keuntungan materi, keuntungan politis atau riya', maka ia tidak dianggap sebagai amal baik. Ia memang baik dari segi sosial, tetapi tidak dari segi spiritual. Karena itu, amalnya tidak naik ke atas, tidak terekam dalam alam malakut. Ia memang telah memberikan pengabdian kepada masyarakat dan kemanusian, tetapi belum mempersembahkan yang terbaik kepada Tuhan, bahkan bisa jadi malah menghianati-Nya. Alih-alih ruhnya bisa naik, dengan perbuatannya yang tidak didasari niat yang baik dan tulus itu, ia justru meluncur ke tempat yang paling rendah.
Dengan demikian, persoalannya tidak sederhana. Perbuatan baik tidak hanya diukur dari segi lahirnya saja. Niat dan pemikiran juga mempunyai peranan yang --bahkan-- amat penting. Bagaimanapun besar perbuatan itu, bila tidak disertai niat dan tujuan yang baik, tidak akan mempunyai makna. Namun, hal itu bukan berarti kita harus lebih mengutamakan aspek spiritual tanpa memperdulikan kebaikannya dalam masyarakat. Keduanya harus berjalan seiring. Bahkan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Dalam Islam, suatu perbuatan itu bagai bentuk manusia; terdiri atas jasad dan ruh. Raga atau jasad perbuatan adalah perbuatan itu sendiri yang tampak secara lahir, sedang ruhnya adalah niat dan tujuan yang mendasarinya. Agar suatu perbuatan (amal) bisa "hidup", bisa terekam dalam alam malakut dan mampu naik menembus hijab untuk hadir di Hadlirat Ilahy, ia harus didasari niat dan tujuan karena Allah. Harus diarahkan kepada Yang Tertinggi dan Yang Suci. Atau harus "ikhlash" menurut istilah pesantren. Perbuatan baik yang tidak "lillah" (tidak karena dan menuju kepada Allah); hanya untuk tujuan duniawi, maka amalnya tidak bisa naik kepada Allah. Amalnya mati bagai jasad tanpa ruh. Ia hanya baik (berguna) menurut pandangan manusia, tapi hampa dalam pandangan Tuhan. Tidak bermakna.
Inilah yang dimaksud "amal shaleh". Yaitu amal yang berkualitas, amal yang punya ruh, sehingga bisa naik ke Hadlirat Ilahy, dan amal seperti inilah yang akan diperhitungkan (diakui) di hari pembalasan kelak sebagaimana diisyaratkan, "Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan, untuk menguji kalian, siapa yang lebih baik amalnya..." (QS, 67;2). Dalam ayat tersebut, tuntutannya bukan "aktsarul amal" (yang terbanyak amalnya) tetapi "ahsanul amal" (yang terbaik amalnya). Yakni, amal yang disamping punya nilai-nilai sosial, juga mengandung realitas maknawi sehingga menjadi amal yang "hidup".
Itulah sebabnya, mengapa dalam perintah puasa ramadlon ini, Allah memulainya dengan kata 'iman'. "Hai orang-orang yang 'beriman', diwajibkan atas kamu berpuasa..." (QS. 2;183). Iman adalah kunci tersampaikannya amal kepada Allah. Dengan landasan iman, seseorang berarti telah menghubungkan segala perbuatannya kepada Yang Tertinggi. Puasa yang dilaksanakan atas dasar iman berarti puasa yang hidup, yang akan mampu naik ke atas untuk hadlir di Hadlirat Ilahy, sehingga dosa-dosa orang yang mengerjakan puasa diampuni oleh Allah. Dan hanya Allah yang tahu akan propsentase kebaikannya. "Siapa yang melakukan puasa Ramadlan atas dasar iman, akan diampuni dosanya yang telah lalu", kata Rasul. Sedang puasa yang tidak dilandasi iman hanya berputar di atmosfir bumi. Tidak bisa melesat ke ketinggian derajat ruhani, karena memang tidak ada hubungan ke sana.

Untuk Taqwa.
Kata kunci kedua adalah taqwa. Atas dasar iman dilakukan puasa untuk mencapai taqwa. Taqwa adalah tujuan yang dingin dicapai dari pelaksanaan puasa. "Hai orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa" (QS. Al-Baqarah, 83). Dengan demikian, puasa bukanlah tujuan dari adanya perintah tersebut. Ia adalah sarana untuk mencapai tujuan. Ayat tersebut sekaligus menunjukkan bahwa iman tidak sama dengan taqwa. Taqwa adalah hasil atau buah dari ibadah yang dilakukan atas dasar iman.
Bagaimana peribadi yang bertaqwa? Ia sesungguhnya sama dengan ihsan. Yaitu, sosok pribadi yang sadar dengan kehadiran Tuhan dan berusaha mengejawentahkan sifat-sifat-Nya dalam tata perilaku kehidupannya. Secara praktis, sebagian ulama berdasarkan masing-masing huruf hijaiyah pembentuk kata 'taqwa' memberikan ciri-ciri orang yang bertaqwa sebagai berikut. Pertama, tawadlu. Maksudnya, rendah hati, tidak sombong, tidak sewenang-wenang. Orang yang bertaqwa menyadari bahwa dirinya bukan apa-apa. Apa yang ada pada dirinya; pangkat, kedudukan, jabatan atau kekayaan, hanya barang titipan, yang pada saatnya nanti akan diambil oleh si empunya. Manusia hanya punya hak pakai, bukan hak kepemilikan mutlak. Allahlah pemiliknya yang hakiki. Karena itu, sungguh tidak pantas menyombongkan diri dengan modal barang titipan.
Kedua, qana'ah. Maksudnya, bersikap sederhana. Ini kelanjutan sifat pertama. Bila seseorang telah mampu menyadari siapa dirinya dan mampu menekan egonya yang tidak baik, ia tidak akan bersikap "neko-neko". Tidak ambisius untuk mencapai sesuatu dengan jalan yang tidak benar. Bahkan Rasul pernah mengajarkan agar kita tidak memberikan sesuatu atau jabatan kepada orang yang berambisi untuk meraihnya. Dan itu benar. Kita bisa melihat, bagaimana model orang yang mencapai jenjang jabatan dengan cara yang tidak bersih, tidak jujur; kolosi, memakai sogok atau yang lain. Yang menjadi program pertamanya, begitu ia menduduki jabatan, adalah bagaimana "modalnya" bisa kembali. Atau bagaimana jabatan tersebut tetap bisa dipegangnya, tidak peduli apakah kebijakannya merugikan rakyat banyak atau tidak.
Dalam alam reformasi, jabatan atau kedudukan tentu bukan barang warisan, apalagi perdagangan. Kekuasaan adalah amanat dan kepercayaan rakyat, dan semua akan dimintai pertanggung-jawaban. Tidak hanya di dunia, tetapi juga di akherat. Kalau di dunia, dihadapan sidang majlis mungkin bisa direkayasa, dikompromi, karena sama-sama "bolo kurowo", tetapi bagaimana dihadapan Tuhan kelak. Apakah rakyat semakin kesulitan sembako, kesulitan pupuk, semakin tersisih dan semakin menderita. Pejabat yang bertaqwa sangat memperhatikan persoalan ini.
Selanjutnya, ketiga, wara; menjaga diri dari semua perbuatan dan makanan yang tidak halal. Orang yang bertaqwa tidak akan melakukan penyelewengan, tidak akan korup dan tidak akan melakukan perbuatan yang tidak benar. Bagai tingkah laku lebah, mereka selalu selektif dalam mengambil makanan dan melakukan perbuatan. Tidak akan jatuh kepada hal-hal yang tidak benar.
Ciri terakhir, keempat, adalah yakin. Karena imannya yang kuat, orang yang bertaqwa amat dekat dengan Kholiqnya. Ia punya sandaran vertikal yang kokoh dengan kualitas ibadah yang baik. Sedemikian, sehingga bagaimanapun berat dan sulitnya perjuangan yang harus dihadapi, ia tidak berputus asa. Yakin, Tuhan tidak akan membiarkan hamba-Nya selama kita mau berusaha keras dan sungguh-sungguh.
Untuk mencapai puasa yang punya hasil dan pengaruh yang demikian besar, tidak bisa dilakukan dengan asal saja. Perlu riyadlah dan mujahadah yang sungguh-sungguh. Para ulama menyatakan, orang yang berpuasa harus mengontrol seluruh aktivitas anggota badannya. Ia harus memelihara pikiran, ucapan dan tindakannya dari segala tipu daya, rekayasa-rekayasa jahat dan lainnya yang menyebabkan hancurnya ibadah puasa. Rasul pernah bersabda, "Banyak orang berpuasa tetapi tidak mendapat apa-apa kecuali lapar dan dahaga, karena tidak mampu mengontrol perbuatannya".
Itulah dua kata kunci puasa. Berdasarkan iman untuk merubah diri menjadi lebih baik. Artinya, jika puasa tidak dilakukan atas dasar iman dan tidak mampu meningkatkan kualitas pribadi kita menjadi lebih baik, berarti kita telah gagal atau belum berhasil melakukan puasa. Wallahu a’lam.

Artikel ini dan lainnya tersimpan dalam document scribd. Untuk mengaksesnya, klik disini

Read more...

Popular Posts

Guestbook Slide

Family Album

My Published Books

  © Blogger templates Islamic Philosophy by A Khudori Soleh Juni 2009

Back to TOP